Suatu Sore di Perpustakaan UI




Les Privat bpUI- Sambil menghadap ke danau hijau nan asri, puluhan anak-anak muda duduk meriung di sebuah bangunan melengkung yang pucuk-pucuknya menjulang. Sebagian mereka ada yang sibuk dengan laptop, ada yang berdiskusi serius, bermain gitar, atau bahkan sekadar ngobrol berduaan. Mereka duduk di teras bangunan dengan kontur tanah berundak-undak. Semilir angin membuat udara tambah sejuk. Di depannya, ada pohon tua yang rimbun yang menambah kesan hijau.

Begitulah suasana Perpustakaan Universitas Indonesia, Gedung The Crystal of Knowledge, di Kampus UI, Depok, Jawa Barat Selasa (23/10/2012) sore. Bertempat di area seluas 30.000 meter persegi, perpustakaan megah ini telah menjadi simbol UI yang baru. Desainnya yang unik lewat konsep perpustakaan modern serta didukung dengan fasilitas serba lengkap nan canggih membuat The Crystal of Knowledge menjadi perpustakaan termodern, terluas, dan terindah yang ada di Indonesia.

Bangunan yang dari jauh kelihatan seperti bebatuan di atas bukit ini sudah menerapkan prinsip ramah energi. Gundukan rumput yang menempel di atap bangunan sengaja diciptakan agar menciptakan udara yang sejuk dan meminimalisir fungsi pendingin udara. Interior perpustakaan didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara menjadi maksimal. Sementara penyaluran energi matahari dilakukan lewat solar cell yang dipasang di atap bangunan. Tanpa dibantu penyinaran lampu, cahaya terang sudah cukup menyiangi tiap sudut ruangan.

"Apa yang ada dibenak Anda ketika mendengar kata 'perpustakaan'? tanya Kalarensi Naibaho, Koordinator Perpustakaan Universitas Indonesia mengawali perbincangan bersama Kompas.com sore itu.

Tanpa menunggu jawaban, perempuan yang akrab disapa Klara ini melanjutkan "Perpustakan selama ini diidentikkan dengan ruangan lusuh yang pengap, rak-rak yang berisikan buku-buku tua, isinya orang-orang serius, penerangan yang kurang, dan melulu hanya untuk membaca dan membaca." Klara lalu menegaskan "Kami ingin mengubah pandangan seperti itu."

The Crystal of Knowledge dibangun berdasarkan visi mantan Rektor UI, Gumilar Rusliwa Somantri, yang ingin menjadikannya sebagai tempat berkumpul para mahasiswa, baik yang berasal dari kampus UI dan luar kampus. Semua latar belakang disiplin ilmu berbaur menjadi satu di sini.

"Meeting point yang kami maksud dalam arti luas, bukan saja tempat belajar, perpustakaan ini menjadi pusat segala aktivitas di kampus." lanjut Klara.

Mungkin, itu sebab kenapa ruang yang tersedia di perpustakaan ini begitu luas. Setiap pojok di masing-masing lantai diisi dengan sofa-sofa dan meja bundar yang nyaman. Interaksi menjadi mudah. Bahkan menjadi keharusan mengingat tiap sudut memungkinkan terciptanya interaksi yang intens.

Perpustakaan yang sering disebut perpustakaan pusat oleh mahasiswa ini sebenarnya sudah ada sejak dulu. Letaknya di sebelah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Namun, karena fasilitas yang minim, Rektor Gumilar memutuskan untuk membebaskan sebagian hutan kampus dan mendirikan perpustakaan baru yang sekarang. Perpustakaan mulai dibangun pertengahan 2009 dengan menggandeng PT Daya Cipta Mandiri sebagai pengembang dan selesai tahun 2011. Sejak peresmian tahun 2011 lalu, setiap fakultas diminta untuk mengumpulkan seluruh koleksi bukunya ke perpustakaan baru.

"Tidak semua fakultas menyetujui saran ini" tutur Klara. "Ada yang keberatan karena beberapa koleksi buku memang langka dan memerlukan penanganan tersendiri," tambahnya.

Bangunan perpustakaan baru ini terdiri dari 8 lantai. Bila Anda baru pertama kali berkunjung, kelengkapan sarana yang ada di sini mungkin akan membuat Anda terheran-heran. Di lantai 1, kita akan disambut layar raksasa yang menceritakan profil kampus. Di depannya ada sebuah kantor bank milik BUMN.

Keunikan lain di lantai ini terdapat berbagai aksara dari seluruh dunia yang ditulis di kaca gedung sebagai dinding. Berjalan menyusuri kiri perpustakaan kita akan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi yang duduk-duduk di sofa sambil mengerjakan tugas kuliah. Tak jauh dari situ ada gerai toko buku Times, Starbucks, dan restoran-restoran yang siap menyajikan menu jika Anda lapar.

Perpustakaan juga dilengkapi sinema, fitness centre, studio musik dan penyiaran. Di bagian paling depan terdapat ruang apung yang dapat digunakan untuk seminar dan workshop. Jika Anda ingin serius belajar, bisa naik ke lantai atas untuk mengakses koleksi 1,5 juta buku - ini belum termasuk koleksi e-book dan e-journal yang bisa diakses secara gratis.

"Kami pelanggan e-journal terbesar di Indonesia." kata Klara.

Ruang baca di lantai atas ini juga menyediakan tempat yang kedap suara. Jika Anda terdaftar sebagai mahasiswa S3, Anda berhak menggunakan ruang kubikus, sebuah ruang belajar khusus berukuran 2 x 2.5 meter persegi yang merupakan ruang tertutup dilengkapi dengan meja dan rak buku dimana pengguna dapat lebih tenang belajar atau membaca. Letaknya di lantai 2 Gedung Perpustakaan UI. Perpustakaan juga dilengkapi ruang diskusi tertutup dan ruang multimedia yang bisa digunakan segenap civitas akademika untuk rapat atau menggelar kuliah-kuliah kecil.

Bukan sekadar belajar

Tia, mahasiswa Fakultas Ekonomi UI, mengaku hampir setiap hari datang ke perpustakaan ini.

"Biasanya sehabis kuliah kita bareng-bareng datang ngerjain tugas atau rapat-rapat kepanitiaan. Kalau enggak ya makan atau ngobrol-ngobrol aja,"

"Tempatnya nyaman dan koneksi internetnya cepat" katanya sambil tertawa saat mengungkapkan alasan berkunjung ke tempat ini.

Mungkin karena konsep titik bertemu itu pulalah yang membuat kegiatan-kegiatan di perpustakaan ini menjadi kaya. Tidak sebatas kegiatan akademik. Saban hari di akhir pekan, di bagian depan perpustakaan yang menghadap ke danau, sekelompok mahasiswa memainkan musik-musik klasik dan akustik, mementaskan teater, deklamasi puisi, atau membentuk komunitas-komunitas.

"Semua kegiatan diorganisir secara independen. Kita hanya menyediakan tempat dan fasilitas. Kreasinya mereka sendiri yang buat." ungkap Klara mengakhiri pembicaraan sore itu.

"Bau busuk" dari gedung elok


Sayangnya, keelokan The Crystal of Knowledge terinterupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencium "bau busuk" dalam proyek pengadaan teknologi informasi (TI) perpustakaan pusat ini di tahun anggaran 2011.

Bermula dari laporan kelompok akademisi dari UI yang menamakan diri Gerakan UI Bersih. Mereka menyampaikan data terkait IT perpustakaan, kontrak pembangunan Convention Centre for Academic Activities, serta sejumlah dokumen perjalanan dinas yang dianggap tidak sesuai fakta.

Terkait indikasi korupsi dalam proyek senilai Rp 21 miliar ini, KPK sudah meminta keterangan lebih dari 10 orang. Salah satunya adalah penggagas perpustakaan megah ini, yaitu mantan Rektor UI Gumilar R Soemantri.

Selain itu, KPK juga telah meminta keterangan Kepala Sub Direktorat Anggaran UI, Dede Suyanto dan dua orang lainnya bernama Farida dan Haryo. Selasa (23/10/2012), Dede keluar dari KPK dan enggan berkomentar banyak.

"Saya serahkan saja kepada KPK karena prosesnya sekarang ada di KPK," tuturnya.

Semoga penanganan kasus ini berakhir dengan elok, seelok wajah The Crystal of Knowledge sore ini.
(kompas.com)