Sejumlah Daerah Munculkan Berbagai Inovasi



Les Privat bpUI— Inovasi ilmiah tetap tumbuh meski infrastruktur pendukung terbatas. Namun, inovasi anak bangsa kurang dilirik industri. Menyebarnya semangat dan budaya meneliti itu terlihat dalam pameran 93 karya ilmiah dan inovasi yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Yang dipamerkan adalah karya para finalis empat lomba, yaitu Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-44, Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) Ke-20, Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia Ke-11, dan National Young Inventor Awards (NYIA) Ke-5.

”Ini untuk mempersiapkan para peneliti muda memasuki jalur akademik hingga mampu mempresentasikan dan mempertahankan pikirannya di depan komunitas akademik,” kata Kepala LIPI Lukman Hakim.

Para finalis tidak hanya berasal dari kota besar. Sejumlah finalis, baik guru maupun siswa, justru berasal dari daerah-daerah terpencil yang sulit akses komunikasi dan transportasi, seperti Kolaka, Sulawesi Tenggara, atau Malingping, Lebak, Banten.

”Peran guru dan alumni peserta kompetisi ilmiah besar, untuk menumbuhkan komunitas ilmiah siswa di sekolah,” kata Yusuar, Kepala Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI.

Yusuar menyayangkan sedikitnya proposal penelitian guru dari Jakarta pada LKIG. Kondisi ini juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Padahal, mereka memiliki akses informasi dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik daripada guru di daerah lain.

Usulan penelitian ilmiah dan inovasi produk yang masuk tahun ini 2.200 proposal. Tiap tahun jumlahnya rata-rata naik 10 persen. Paling banyak berasal dari LKIR, yakni 1.315 proposal.

Dalam LKIR, peserta mengirimkan usulan penelitian. Penelitian terbaik akan dikembangkan dengan pendampingan dari peneliti LIPI. Karena keterbatasan dana, hanya 46 usulan yang bisa didampingi.

Beberapa penelitian dalam LKIR antara lain pemanfaatan sejumlah bunga sebagai indikator alamiah untuk mendeteksi formalin dan boraks pada makanan, penggunaan rumus trigonometri untuk desain batik fraktal, serta studi faktor pembentuk jiwa wirausaha pada etnis Tionghoa dan Jawa di Bogor.

Adapun inovasi produk yang diikutkan dalam NYIA kali ini antara lain detektor telur busuk skala industri kecil, bra penampung air susu ibu agar tak terbuang percuma, pelampung anti-tsunami yang siap dalam lima menit, hingga sepatu anti-kekerasan seksual dengan tombol pemicu aliran listrik di ujungnya.

Lukman mengatakan, di luar negeri, kompetisi ilmiah serupa akan didatangi industri dan pelaku usaha untuk mencari produk-produk yang bisa dikembangkan dan diproduksi secara massal. Namun, hal itu tidak terjadi di Indonesia. (MZW)