Orang Jenius Indonesia Hanya 2 %



Les Privat bpUI- Berdasar prediksi Mensa Indonesia, dari populasi jumlah penduduk di Tanah Air saat ini, hanya dua persen yang dikategorikan sebagai orang jenius. Mensa adalah perkumpulan orang ber-IQ tinggi.

Seperti disampaikan Presiden Mensa Indonesia Sahat Simarmata, orang-orang ber-IQ tinggi hanya sebagian kecil dari populasi penduduk, tepatnya sekira dua persen saja. Sayangnya, sebagian dari orang jenius itu justru berkiprah di luar negeri ketimbang di Tanah Air.

Menurut Sahat, kini berbagai upaya terus dilakukan untuk membangun masyarakat Indonesia agar memiliki tingkat intelegensia yang tinggi. Dengan begitu, jumlah orang jenius di Tanah Air bisa bertambah banyak.

"Di masa sekarang, produktivitas intelektual jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan produktivitas," kata Sahat di sela Asian Mensa Gathering 2012, di Swiss Belhotel Bayview Hotel, Nusa Dua, Bali, Jumat (21/9/2012).

Dalam forum yang mengusung tema "Global Brains For The Poor" itu Sahat mengimbuh, berangkat dari keprihatinan untuk menolong masyarakat Indonesia dengan taraf ekonomi rendah, Mensa Indonesia pun mengundang anggota Mensa Internasional untuk bersama-sama membahas dan merumuskan langkah-Iangkah komprehensif untuk mengangkat taraf ekonomi masyarakat miskin dengan cara memberdayakan brain-power mereka. Selama tiga hari, ratusan orang jenius yang memiliki IQ tinggi se-dunia berkumpul di Bali, membahas upaya pengentasan kemiskinan dengan pengembangan brain-power untuk peningkatan sumber daya manusia.

"Pertemuan membahas berbagai langkah-Iangkah komprehensif untuk mengangkat taraf ekonomi masyarakat miskin dengan cara yang bermartabat," kata President Schneider Electric Indonesia, Riyanto Mashan.

Pendekatannya, kata Riyanto, bagaimana memberdayakan brain-power dengan membangun national brain capital untuk menjadi motor peningkatan intelektual masyarakat.  Riyanto menegaskan komitmennya untuk melakukan pengembangan di bidang sumber daya manusia di Indonesia, mengingat masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Riyanto berujar, pihaknya berupaya menjembatani dunia pendidikan dengan dunia kerja yakni dengan membuka kelas kelistrikan berkurikulum khusus dan perlengkapan produk Schneider Electric bagi siswa-siswa SMK. Hingga saat ini, tercatat 50 siswa SMK pilihan yang sudah mengikuti kurikulum tersebut. Hasilnya, siswa-siswa tersebut telah mendapat gelar engineer dan dengan cepat terserap lapangan kerja, antara lain bekerja di PT Schneider Indonesia. Program tersebut diharapkan dapat melahirkan tenaga kerja yang mahir dan siap pakai.

Kegiatan internasional tersebut rencanya akan dibuka Utusan Khusus Presiden Bidang Pengentasan Kemiskinan, HS Dillon, Sabtu, 22 September 2012. Pertemuan tersebut, diharapkan bisa menelorkan sebuah rekomendasi pengentasan kemiskinan kepada pemerintah.

Lebih dari 100 orang anggota Mensa dari 15 negara yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Australia, Jepang, Kanada, Afrika Selatan, Belanda, Jerman, Denmark, Hungaria, Amerika Serikat, Prancis, dan Serbia. Di kesempatan tersebut Mensa juga akan menyampaikan "Deklarasi Bali" yaitu suatu komitmen bersama anggota Mensa untuk memberdayakan kemampuan otak masyarakat dan perhatian khusus bagi pengembangan potensi anak-anak ber-IQ tinggi di Asia.(rfa)
Sumber : Kompas.com