Sri Sultan Layani Mahasiswa Miskin dengan Cara Unik




Les  privat bpUI— Ada cara unik yang dipilih Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk membuka peluang mahasiswa miskin berprestasi di wilayahnya untuk menyelesaikan studi S-1. Caranya, membayar biaya kuliah mahasiswa tersebut dengan sebuah pohon jati berusia 15 tahun.

"Cara saya lain, saya tanam pohon jati. Setiap kampus yang mau menyubsidi orang miskin sampai lulus S-1 itu, saya bayar dengan pohon jati pada 15 tahun mendatang," kata Sri Sultan kepada Kompas.com, seusai menghadiri Sidang Kabinet Terbatas Bidang Pendidikan di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Selasa (31/7/2012).
Seandainya satu kampus menggratiskan lima mahasiswa itu kan sudah lumayan. Harga pohon jati setelah 15 tahun itu sepadan dengan biaya mahasiswa saat berkuliah
-- Sri Sultan HB X
Ia menjelaskan, sampai saat ini program tersebut telah berjalan selama tiga tahun dan melibatkan sedikitnya enam perguruan tinggi negeri/swasta. Kebijakan "nyentrik" ini sengaja diambil untuk menyiasati terbatasnya peluang masyarakat miskin dalam mengenyam pendidikan tinggi yang berkualitas.

Tidak main-main, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta menyediakan lahan bebas seluas 10 hektar milik kabupaten/kota. Lahan tersebut akan ditanami ratusan pohon jati yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mengganti biaya mahasiswa yang mengambil jenjang S-1 di perguruan tinggi bersangkutan.

"Seandainya satu kampus menggratiskan lima mahasiswa, itu kan sudah lumayan. Harga pohon jati setelah 15 tahun itu sepadan dengan biaya mahasiswa saat berkuliah," ujar Sultan.

Sebagai informasi, pemerintah telah menjamin hak pendidikan tinggi mahasiswa miskin melalui beasiswa Bidik Misi. Beasiswa tersebut diberikan pemerintah kepada sekitar 20.000 mahasiswa melalui perguruan tinggi negeri.

Akan tetapi, mahasiswa miskin yang menempuh studi di perguruan tinggi swasta belum mendapatkan pelayanan serupa. Terakhir, usulan pemerintah untuk memberikan beasiswa Bidik Misi kepada dua ribu mahasiswa di perguruan tinggi swasta juga ditangguhkan oleh Kementerian Keuangan, menyusul tak tersedianya anggaran karena harga BBM batal dinaikkan.

Hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar Rapat Kabinet Terbatas Bidang Pendidikan di Gedung Kemdikbud. Didampingi Wakil Presiden Boediono serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berikut beberapa menteri lain dan gubernur sejumlah provinsi, agenda rapat membahas pembangunan pendidikan nasional.