Dukung Disabilitas Kampus dengan 3 Cara


Image: Corbis 
Les Privat bpUI- Sedikitnya 10 persen dari total penduduk Indonesia menderita disabilitas. Dari jumlah itu, 26 juta di antaranya merasa tersisihkan, terkucil dan tertindas.

Fakta ini dibeberkan Ketua Pusat Layanan dan Disabilitas Univeristas Brawijaya (UB) Fadilah Putra dalam seminar internasional bertajuk "Inclusive Education in University" di kampus UB, baru-baru ini. Menurut Fadilah, para penyandang disabilitas ini berhak atas akses yang sama dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Sebab, diskriminasi terhadap kecacatan adalah pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

"Sayangnya, 10 persen penduduk Indonesia yang disable itu tidak bisa meraih pendidikan dalam jumlah luas, terutama pada perguruaan tinggi," kata Fadilah, seperti dilansir laman berita UB, Prasetya Online, Jumat (27/7/2012).

Fadilah mengimbuh, pada 2010, hanya 0,95 persen penyandang disabilitas yang berkesemapatan mengenyam pendidikan sarjana; dan lebih sedikit lagi (0,04 persen) yang mencicipi bangku S-2 dan S-3. Kebanyakan, para penyandang disabilitas hanya dapat menikmati pendidikan pada tingkat sekolah dasar dan menengah. "Untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi penyandang disabilitas, UB pun menjadi pionir kampus inklusif bagi penyandang disabilitas," imbuhnya.

Menurut Manager Macquarie University Accessibility Services (MQAS) Sharon Kerr,  kesempatan belajar bagi penyandang disabilitas di UB akan membuat perubahan lebih besar bagi masyarakat. Namun, kampus juga perlu mengakomodasi beberapa hal lain untuk mendukung program ini. "Misalnya dengan merancang kurikulum bagi kaum disabilitas dengan dukungan teknologi yang tidak spesial namun sangat dibutuhkan bagi siswa disabilitas," ujar Sharon.

Dia mengilustrasikan, institusinya bekerjasama dengan perusahaan komputer dan piranti lunak untuk membuat e-book yang bisa dipakai tuna netra melalui audio. Bagi tuna rungu, semua materi perkuliahan dicatat dan ada pencantuman caption pada video rekaman.

"Ada tiga hal penting yang harus dilakukan perguruan tinggi dengan banyak mahasiswa disable. Pertama, membangun lingkungan yang mendukung seperti penyediaan fasilitas lift dan toilet. Kedua, dengan memanfaatkan teknologi, kampus mendesain kurikulum yang bisa diakses dengan mudah oleh para disable. Dan ketiga, menerapkan sosial side of education agar para mahasiswa normal bisa menerima mahasiswa disable dengan baik," tutur Sharon.

Sharon yakin, para siswa disable dapat meraih pendidikan dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Ucapan Sharon ini dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadinya. "Suami saya adalah seorang disable akibat kecelakaan. Namun, dia berhasil lulus kuliah dengan predikat memuaskan dan bahkan menjadi salah satu bussiness leader di Sydney," imbuhnya.(rfa)