Apa Kepemimpinan Berkarakter ?


Les Privat bpUI-SECARA terminologis, kepemimpinan sering diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh pemimpin untuk memengaruhi pengikutnya, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Pembahasan tentang kepemimpinan, tidak akan lepas dari subyek penggeraknya, yaitu pemimpin. Peranan pemimpin sangat vital dalam suatu kelompok tertentu, karena tanpa sumbangsih mereka, tidak akan ada penggerak roda pemerintahan.
Dalam lingkup tatanan masyarakat Indonesia yang feodal, faktor kepemimpinan memiliki pengaruh besar dalam pencapaian tujuan kehidupan bernegara; di antaranya yaitu tercapainya kemajuan negara, kemakmuran rakyat, serta terwujudnya keadilan bernegara. Tujuan ini tidak akan mampu terealisasi, tanpa adanya sosok pemimpin yang menjadi “Mursyid”. Tujuan-tujuan yang telah tertanam, harus dapat diwujudkan oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus dapat menggerakakkan bawahan dan juga rakyatnya agar tujuan tersebut dapat terwujud. Sebab, ditangannyalah terdapat tanggung jawab profetik, yaitu membawa rakyat menuju kesejahteraan. Apabila pemimpin negara tidak dapat mengimplementasikan tujuan tersebut, maka kepemimpinannya dianggap gagal total.

Realitas di negara ini, pemimpin negara tidak bisa mewujudkan tujuan kehidupan bernegara. Sesuatu yang seharusnya mereka lakukan, misalkan seperti membabat habis koruptor, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, memajukan pendidikan, dan masih banyak lagi, tidak mereka lakukan. Hal-hal yang semestinya tidak perlu, justru mereka lakukan. Misalnya, wakil presiden berpidato mengenai peraturan azan. Dia berpidato tentang tata cara bagaimana seharusnya azan dikumandangkan. Seharusnya masalah seperti ini bukan bagian pemimpin negara. Dalam negara demokratis, memang dibenarkan jika setiap orang termasuk para pemimpin untuk menyuarakan pendapat. Akan tetapi, akan terasa lucu jika seorang wakil presiaden berpidato mengenai hal yang tidak seharusnya dia lakukan.

Pemimpin negara yang kurang tegas juga memperkeruh suasana yang sudah tidak kondusif. Di saat kondisi negara sedang karut-marut, bangsa ini masih harus dihadapkan pada masalah pemimpin yang tidak tegas. Memperbaiki negara yang sudah kacau balau tanpa adanya ketegasan dari pemimpin, sama halnya dengan mendorong bus  mogok yang tanpa roda untuk dapat melaju kencang. Artinya, mustahil terjadi perbaikan bagi negeri ini. Sebab, pemimpin yang tidak mempunyai keberanian untuk tegas, akan mudah dipengaruhi dari luar. Hal yang lebih parah lagi, bangsa ini jadi tidak terurus karena pemimpinnya tidak mempunyai ketegasan dalam mengambil kebijakan. Diterima maupun tidak, itulah fakta yang terjadi di negara kita.

Independensi pemimpin negara, sekarang juga perlu dipertanyakan. Sebab, jika kita mengamati lebih lanjut, dalam penentuan kebijakan sering kali terjadi intervensi dari pihak lain. Praktik jual beli undang-undang masih sering terjadi di negara ini. Akibatnya, kebijakan yang diambil hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dan semakin memarjinalkan masyarakat bawah. Masalah ini, sebenarnya terjadi karena tidak ada ketegasan pemimpin, sehingga berimbas pada independensi yang dimiliki. Akibat  dari kelakuan pemimpin yang tidak independen ini, lagi-lagi rakyat yang tak berdaya harus menanggung derita.

Di lain hal, sering kali para pemimpin negara ini bertindak manja. Tingkah laku yang suka bermewah-mewahan, membuat mereka tidak cukup hanya memiliki fasilitas yang seadanya. Selalu saja ada peraturan yang dirancang untuk melegitimasi kegemaran mereka untuk menikmati hidup mewah. Mulai dari permintaan kenaikan gaji, ganti mobil dinas, hingga menikmati kenyamanan gedung kerja baru. Jika membandingkan dengan kondisi masyarakat miskin negeri ini, tidak sepantasnya mereka yang berkuasa hanya bermanja-manja menikmati hidup bergelimang kemewahan. menikmati kemewahan di tengah masyarakat yang menderita adalah perbuatan yang tidak senonoh dan sangat memalukan. Seharusnya nasib rakyat yang harus diperhatikan lebih dulu, bukan mengurusi diri sendiri.

Pemimpin yang berkarakter, adalah dambaan semua rakyat negeri ini. Pemimpin yang berkarakter, sangat diperlukan agar bisa menciptakan kondisi negara yang stabil. Seorang pemimpin yang memiliki karakter yang kuat, tidak akan mudah terpengaruh dari luar. Selain itu, mereka juga lebih punya ketegasan, integritas, dan bisa menjaga moralnya sebagai figur rakyat. Dengan pemimpin yang seperti ini, martabat negara juga tidak mudah untuk diinjak-injak negara lain. sebab, pemimpinnya adalah seorang  tegas dan berintegritas. Menyangkut hal ini, kita bisa mengambil sampel pada masa orde baru. Karakter kepemimpinan Soeharto perlu dijadikan contoh, karena berkat pemerintahannya, Indonesia menjadi salah satu negara yang ditakuti di Asia dan martabat negara pun dapat dijunjung tinggi. Tentunya, hal ini di luar konteks-konteks lain yang menyangkut pemerintahan orde baru.

Dari studi kasus yang terjadi, ada beberapa indikator pemimpin yang berkarakter kuat. Pertama tahan uji, pemimpin negara yang tahan terhadap ujian, tidak mudah mengeluh karena nasib yang dilaminya. Maka dari itu, seperti yang diungkapkan Kasman Singodimejo, “leider is lijden” (memimpin adalah menderita) konsekuensi yang harus diterima adalah pemimpin memang “menderita”. Ungkapan ini memberitahukan bahwa seorang pemimpin memang harus berjuang demi orang-orang yang dipimpinnya, walaupun harus rela mengorbankan semua yang dimilikinya.

Kedua “nekad”, nekad di sini berarti berani mengambil tindakan untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang menimpa negara. Setiap pemimpin pasti dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan yang sulit diambil jalan tengahnya. Oleh karena itu, dibutuhkan ke”nekad”an pemimpin agar nasib negara tidak terkatung-katung.

Dan yang ketiga,yaitu “nakal”. Mengacu pada pendapat John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang sering disebut Lord Acton, “Great man almost always bad man”. Bad man di sini, bisa diartikan pribadi yang “nakal”. Nakal tidak hanya sebatas dalam artian urakan atau tanpa aturan, melainkan memiliki arti, orang yang berani melawan arus dan memiliki integritas yang tinggi. Dengan adanya keberanian dan integritas ini, pemimpin tidak akan gentar untuk menghadapi ancaman dari pihak mana pun.
Sumber : Kompas.com