Dosen UI:Tidak Sesuai "Masterplan" Pembangunan UI




Lesprivatbpui.com - Staf Pengajar Tata Ruang Departemen Geografi Universitas Indonesia (UI), Tarsoen Wiryono, mengaku khawatir dengan tata ruang kampus UI di masa mendatang. Pasalnya, ada beberapa hal pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan masterplan pembangunan UI.
Saat ini belum menjadi masalah, tapi ke depan.
-- Tarsoen Wiryono
Tarsoen menjelaskan, beberapa hal yang dikhawatirkannya akan menimbulkan masalah adalah jarak bangunan tidak mengikuti aturan dalam masterplan. Di dalam masterplan, jarak minimal antarbangunan harus 25 meter. Namun pada kenyataannya, ada beberapa bangunan di UI berjarak hanya 10 sampai 15 meter.
"Saat ini belum menjadi masalah, tapi ke depan," kata Tarsoen kepada Kompas.com, Jumat (30/3/2012).
Selain itu, lanjut dia, dalam masterplan UI semua bangunan telah disesuaikan dengan arsitektur nasional, yaitu masing-masing bangunan memiliki kaki, tubuh dan kepala. Tarsoen bahkan mengkritisi pembangunan perpustakaan UI yang dinilainya memiliki gaya arsitektur berbeda.
"Nilai arsitektur perpustakaan berbeda dengan semangat yang ada dalam masterplan," ujarnya.
Di luar itu, ada juga lahan pejalan kaki di sekitar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) menuju masjid UI yang kemudian dipotong lantaran imbas pembangunan gedung. Lantaran hal itu, akses pejalan kaki menjadi terganggu.
"Sangat keliru jika jalan itu dikorbankan, atau ada rencana lain," cetusnya.
Driving range
Seperti diberitakan sebelumnya (Ternyata..."Masterplan" UI Depok Sudah Direvisi Dua Kali!), masterplan UI mengalami beberapa kali perubahan sejak dibuat pada 1987. Juru bicara UI, Siane Indriani menjelaskan, perkembangan kehidupan kampus UI memaksa masterplan 1987 direvisi pada 1997. Pada isi masterplan 1997 itu ditambahkan pembangunan dan perluasan beberapa fakultas, pusat studi, serta asrama mahasiswa.
Terakhir, masterplan itu kembali direvisi pada 2008. Revisi kali ini, menurut Siane, dilatarbelakangi pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) yang akan memakai lahan UI seluas 7,5 hektare, yang belakangan diikuti dengan pembangunan-pembangunan lainnya sehingga muncul polemik, terutama soal driving range.
Siane melanjutkan, dengan mengusung visi world class university, entreprising, eco-sustainable dan integrasi, komposisi tata kelola UI terdiri dari beberapa klasifikasi. Klasifikasi itu meliputi areal pendidikan, komersialisasi, hunian, rekreasi, lahan resapan, dan lahan olahraga yang tercakup dalam Integrated Faculty Club (IFC) termasuk di dalamnya pembangunan driving range.
Seluas 6.707 meter persegi, IFC dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kegiatan akademik, seperti ruangan seminar multimedia, maupun fasilitas auditorium. Selain itu, IFC juga memiliki fasilitas olahraga lapangan tenis, driving range, lapangan futsal, dan kolam renang kelas olimpiade untuk persiapan menjadi tuan rumah olimpiade antar universitas tingkat Asia, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga mahasiswa.
Sementara berdasarkan temuan Kompas.com pada konsep hutan kota UI yang diterbitkan pada 1985,
lahan yang digunakan dalam pembanguann IFC ini merupakan lahan cadangan. Lahan ini ditetapkan sebagai kawasan rekreasi dan wisata.
Namun demikian, kawasan wisata yang dimaksud di situ sudah ada dalam konsep Mahkota Hijau Hutan Kota UI , yaitu sebagai pengembangan wisata agro terintegrasi dengan hutan kota, bukan areal driving range atau sarana olahraga lainnya. Bahkan, jika amati secara seksama, pembangunan IFC yang di dalamnya dilengkapi driving range itu tidak dijelaskan sama sekali dalam masterplan revisi 2008.
les private/guru les privat/les privat sd smp sma alumni/intensif un/snmptn/simak ui/supercamp ui