Mengembangkan PTS,Memantapkan PTN




Foto: gettyimages.comLes Privat bpUI-KEBERADAAN Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Tengah dan Dearah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga kini masih menjadi primadona bagi calon mahasiswa. Ini tidak lepas dari anggapan masyarakat yang menilai kuliah di PTN lebih prestisius dan mudah diterima di dunia kerja.

Faktor lainnya adalah PTN dinilai lebih berkualitas dan biaya lebih murah dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Kondisi inilah yang menyebabkan banyak PTS di Jateng dan DIY, terutama PTS-PTS kecil sering kekurangan mahasiswa saat penerimaan mahasiswa baru dibuka. PTS harus “menunggu” terlebih dulu sisa para calon mahasiswa baru yang tidak lolos masuk PTN untuk direkrut.

Belum lagi di lingkup PTS kecil sering kali masih kalah bersaing dengan PTS-PTS yang sudah mapan. Ini juga menjadi salah satu faktor sulit berkembangnya PTS, dengan sumber dana yang hanya mengandalkan dari jumlah mahasiswa, berkembangnya PTS pun terhambat.

Sebagai perbandingan, dari data Koordinasi Perguruan Tinggi (Kopertis) Wilayah VI Jateng, terdapat 238 PTS yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Jumlah PTS tersebut meliputi akademi, institut, sekolah tinggi, serta universitas dengan jumlah total mahasiswa berkisar 280.000 orang.

Dibandingkan dengan jumlah PTS, PTN di Jateng hanya berjumlah enam, yakni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Politeknik Negeri Semarang (Polines), dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Namun di satu sisi, dari berbagai kendala yang dihadapi oleh PTS, pemerintah dipandang sejumlah pihak masih menganaktirikan PTS.

Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Seluruh Indonesia (Aptisi), Profesor Laode Masihu Kamaludin mengatakan, pemerintah hingga kini masih terfokus pada pengembangan dan pemberian sejumlah bantuan seperti bantuan pendidikan dan penelitian di PTN. Sementara PTS, masih bernasib kurang beruntung dengan berjuang sendiri di tengah banyaknya persaingan PT.

Berlomba Tawarkan Kualitas untuk Calon Mahasiswa Perguruan Tinggi (PT) merupakan lembaga pendidikan yang diharapkan bisa menghasilkan para manusia yang memiliki akhlak, ilmu pengetahuan dan prestasi yang baik sehingga perannya dapat dirasakan oleh suatu masyarakat. Dan yang terpenting lulusannya bisa segera diserap lapangan pekerjaan, memiliki hasil penelitian yang memuaskan dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Hanya saja untuk mewujudkan hal ini, tentunya bukan hal yang mudah, namun perlu berbagai langkah. Itulah kiranya yang sekarang sedang dihadapi dan menjadi tantangan para pengelola PT, baik negeri maupun swasta.

Salah satu yang sekarang selalu dimunculkan oleh PT itu, yaitu masalah peningkatan kualitas pendidikan dan menawarkan bidang akademik yang menjadi unggulan, seperti program studi (prodi) maupun kegiatan ekstrakulikuler dan intrakulikuler yang menjadi unggulan di kampus tersebut serta bagaimana prospek lulusan nanti. Misalnya, Universitas Gadjah Mada (UGM), meski PTN pertama di Indonesia ini dalam tahun akademik baru tetap menjadi pilihan utama.

“Sebenarnya untuk penerimaan mahasiswa baru, kami tidak ada program khusus, sebab sebagai PTN sudah ada sistem tersendiri, yaitu melalui SNMPTN,” ungkap Sekretaris Direktur Administrasi Akademik (DAA) UGM Agus Wiranto. 

Hal sama dilakukan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. UII terus mendekatkan diri kepada masyarakat dengan selalu melakukan roadshow ke beberapa wilayah di Indonesia.

Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Djohan mengatakan, UKDW saat ini sedang menyempurnakan program yang akan mengarah ke satu universitas yang bisa mengintegrasikan riset dan kewirausahaan. (priyo setyawan/susilo himawan/koran si)(//rfa)
Guru Les Privat / Intensif UAN / Intensif SNMPTN / Supercamp UI