Ingin Anak Pintar, Ortu & Guru Harus Sabar

bpUI - Berbagai pihak masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dalam implementasi kurikulum 2013. Tidak hanya siswa, guru dan orangtua juga harus mengubah mindset demi lancarnya pelaksanaan kurikulum tersebut.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Pendidikan Musliar Kasim menyebut, mindset guru dan orangtua yang selalu mengutamakan hasil secara instan harus diubah. Sebab kurikulum 2013 menekankan pada proses bukan hasil.

"Yang harus diubah adalah mindset guru dan orangtua. Orangtua ingin anak masuk SD langsung pintar. Jadi tidak sabar. Maka ada peraturan menteri yang mengatur agar tes baca, tulis, dan berhitung (calistung) ditiadakan untuk masuk SD. Sebab pada dasarnya anak TK tidak boleh diajarkan calistung," ujar Musliar dalam Media Gathering Tanoto Foundation di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (7/8/2014).

Menurut Musliar, Kurikulum 2013 memberikan manfaat yang positif bagi peserta didik. Sebab, output yang dihasilkan tidak hanya berfokus pada pengetahuan siswa saja tapi juga mengembangkan keterampilan dan sikap mereka.

"Selama implementasi Kurikulum 2013, saya sudah mengunjungi 100 sekolah dan bertemu dengan banyak guru maupun orangtua murid. Dari jumlah tersebut tidak satu pun yang tidak setuju dengan Kurikulum baru itu. Karena melalui Kurikulum 2013, kami ingin menghasilkan anak yang memiliki tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan," jelasnya.

Mantan Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang itu menyatakan, masih banyak orang yang mempertanyakan bagaimana kompetensi sikap diterapkan dalam pelajaran Matematika. Hal itu, lanjutnya, bisa terlaksana dengan mengandalkan panduan dari guru.

"Sikap diajarkan dalam matematika, bagaimana caranya? Diarahkan oleh guru. Misalnya dengan bersikap jujur ketika menemukan uang yang bukan miliknya. Guru mengajarkan siswa untuk mengumumkan kepada teman-teman satu kelas ketika menemukan uang yang bukan miliknya," urai Musliar.

Dia menambahkan, wajar jika masih banyak orangtua maupun guru yang merasa bingung dengan pelaksanaan kurikulum 2013. Oleh karena itu, terdapat Klinik Konsultasi Pembelajaran serta Forum Komunikasi antara guru dan orangtua untuk menemukan informasi terkait kurikulum baru itu.

Beban Kuliah Mahasiswa S1 Sangat Berat di Indonesia

bpUI- Secara pengetahuan, orang Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan orang asing. Bahkan, masyarakat Indonesia cenderung memiliki pengetahuan lebih banyak dibandingkan mereka.

Perbedaannya justru terletak pada kedalaman pengetahuan tersebut. Orang Indonesia menguasai banyak hal tapi tidak mendalam, sementara orang asing mengetahui lebih sedikit namun mendalam.

Hal itu yang kemudian mendasari salah seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) melakukan penelitian lebih lanjut. Rangga Handika melakukan kajian untuk melihat perbedaan kurikulum perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri, seperti Australia.

"Penelitian yang dilakukan adalah studi kebijakan dan pengalaman saya selama menempuh pendidikan di luar negeri. Saya ingin melihat kurikulum di perguruan tinggi dan kompetensi mahasiswa atas kurikulum tersebut," ujar Rangga, dalam Media Gathering Tanoto Foundation di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (7/8/2014).

Berdasarkan kajian yang dilakukannya, Rangga menemukan, tiga SKS yang diajarkan dalam perkuliahan di Indonesia berbeda dengan tiga SKS di luar negeri.  Perbedaan yang dimaksud terletak pada penguasaan mahasiswa terhadap materi tersebut.

"Orang bule menguasai sedikit tapi mendalam. Tapi Indonesia, menguasai banyak tapi hanya di permukaan. Karena di Indonesia, satu semester mahasiswa dijejali dengan tujuh mata kuliah sementara di luar negeri hanya empat mata kuliah," papar Kepala International Office UI itu.

Oleh karena itu, Rangga berharap kajian yang dilakukannya bisa memberikan feedback bagi pemangku kebijakan di Indonesia dalam merumuskan kurikulum perguruan tinggi. Sehingga kurikulum pendidikan tinggi bisa lebih efektif dan tepat sasaran.

"Berangkat dari keprihatinan itu, saya pun melakukan kajian terhadap beban kuliah mahasiswa S-1 di Indonesia. Para mahasiswa dijejali terlalu banyak sehingga overload. Ini tidak mudah karena apa yang dihasilkan sekarang mungkin baru bisa dilaksanakan beberapa tahun kemudian," imbuh Rangga.

Penelitian yang dilakukan Rangga ternyata mendapat perhatian dari Tanoto Foundation. Dia mendapatkan hibah dari Tanoto Foundation untuk menyelesaikan riset tersebut.
Sumber : okezone
Labels : guru les privat  , les privat sd smp sma , guru privat ke rumah , guru privat matematika , guru privat fisika , guru privat di jakarta , guru privat fokus ujian nasional , guru privat berpengalaman